Ogoh-Ogoh Simbol Harmoni dan Budaya Masyarakat Blitar
| Pawai ogoh-ogoh bukan hanya atraksi budaya semata, melainkan sarat dengan nilai moral dan filosofi kehidupan. |
Bupati Blitar, Rijanto, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada panitia dan seluruh peserta yang telah mempersiapkan kegiatan dengan baik. Menurutnya, kreativitas dan semangat kebersamaan yang ditunjukkan dalam pawai ini menjadi bukti kuat hidupnya budaya di tengah masyarakat.
“Saya menyampaikan penghargaan kepada panitia dan seluruh peserta pawai ogoh-ogoh yang telah menampilkan kreativitas luar biasa. Ini bukan sekadar tontonan, tetapi simbol kebersamaan dan kekayaan budaya yang kita miliki,” ujar Bupati.
Ia menegaskan, pawai ogoh-ogoh bukan hanya atraksi budaya semata, melainkan sarat dengan nilai moral dan filosofi kehidupan. Ogoh-ogoh yang diarak melambangkan sifat-sifat negatif manusia yang harus dikendalikan demi terciptanya kehidupan yang harmonis.
“Hari ini kita menyaksikan bukan hanya pawai budaya, tetapi juga semangat gotong royong, nilai seni, serta pesan moral untuk mengendalikan sifat negatif dalam diri manusia,” tambahnya.
Lebih lanjut, Bupati melihat potensi besar pawai ogoh-ogoh sebagai daya tarik wisata budaya. Jika dikemas secara lebih baik, kegiatan ini diyakini mampu menarik wisatawan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya bagi pelaku UMKM dan sektor pariwisata.
“Keramaian seperti ini memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat. Ke depan, kami berharap kegiatan ini terus dikembangkan agar menjadi agenda budaya unggulan yang selalu dinanti,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, Setiyoko, menjelaskan bahwa pawai ogoh-ogoh merupakan bagian dari rangkaian upacara Tawur Agung Kesanga. Ritual ini bertujuan untuk menyucikan alam serta menetralisir buta kala atau energi negatif agar tidak mengganggu kehidupan manusia.
“Tawur Agung ini adalah upacara pembersihan sebelum pelaksanaan Nyepi. Ogoh-ogoh melambangkan sifat buruk yang kemudian diarak dan dibakar sebagai simbol penghilangan energi negatif,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebanyak 54 peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur turut ambil bagian dalam pawai yang dipusatkan di Wlingi tersebut. Setelah diarak, ogoh-ogoh akan dibawa kembali ke wilayah masing-masing untuk diarak keliling kampung sebelum akhirnya dibakar di tempat yang aman.
“Setelah ini, umat Hindu akan memasuki rangkaian Catur Brata Penyepian mulai besok hingga lusa pagi, kemudian dilanjutkan dengan Ngembak Geni,” imbuhnya.
Pawai ogoh-ogoh ini menjadi bukti bahwa tradisi budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga mampu memperkuat harmoni, toleransi, serta identitas masyarakat di Kabupaten Blitar.
Kontributor : Erina Airin
Editor : Tim Berita Jurnal



