BMKG Prediksi Cerah Dominan, Angin Kencang dan Karhutla Jadi Ancaman
| Selama tiga hari ke depan, cuaca di Madiun Raya secara umum diprakirakan cerah hingga cerah berawan dengan potensi hujan yang sangat rendah. |
Namun di balik langit yang cenderung bersih, BMKG mengingatkan adanya potensi angin kencang sesaat serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat musim kemarau yang semakin menguat.
Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG Nganjuk, Setiyaris, mengatakan peluang hujan di wilayah Madiun Raya dalam periode tersebut sangat kecil.
Kondisi itu dipengaruhi dominasi massa udara kering dari wilayah selatan Indonesia yang menghambat pembentukan awan hujan.
"Selama tiga hari ke depan, cuaca di Madiun Raya secara umum diprakirakan cerah hingga cerah berawan dengan potensi hujan yang sangat rendah, "kata Yaris, Jumat (10/7/2026).
"Masyarakat justru perlu mewaspadai hembusan angin kencang sesaat pada siang hingga sore hari, terutama di wilayah terbuka, "lanjutnya.
Ia menjelaskan, memasuki pertengahan Juli, musim kemarau semakin meluas di sebagian besar Jawa Timur. Massa udara kering yang berasal dari kawasan Samudra Hindia selatan Jawa hingga Nusa Tenggara menyebabkan kandungan uap air di atmosfer berkurang sehingga pertumbuhan awan hujan menjadi sangat terbatas.
Selain itu, hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) menunjukkan semakin banyak daerah di Jawa Timur mengalami HTH kategori panjang hingga sangat panjang. Kondisi atmosfer yang relatif stabil dengan minim gangguan cuaca juga membuat peluang hujan semakin kecil.
Menurut Setiyaris, keberadaan Typhoon Bavi di kawasan Pasifik Barat turut memengaruhi pola sirkulasi atmosfer regional sehingga distribusi massa udara dan uap air di sekitar Indonesia ikut berubah. Meski tidak berdampak langsung, kondisi tersebut mendukung dominasi cuaca kering di Jawa Timur.
Selama 10–12 Juli 2026, suhu udara di wilayah Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, dan Pacitan diperkirakan berkisar 17–34 derajat Celsius dengan kelembapan udara antara 40 hingga 85 persen.
Sementara, angin bertiup dari arah tenggara hingga selatan dengan kecepatan rata-rata 10–15 kilometer per jam.
BMKG juga mengingatkan adanya potensi angin kencang sesaat atau gust wind dengan kecepatan 15–30 kilometer per jam pada siang hingga menjelang sore.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan ranting pohon patah, pohon tumbang, hingga baliho roboh.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap angin kencang sesaat, terutama saat beraktivitas di luar ruangan atau melintas di bawah pohon-pohon besar maupun papan reklame," kata Yaris.
Di sisi lain, Kabupaten Ngawi dan Ponorogo diperkirakan mengalami peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan akibat cuaca yang semakin kering, kelembapan udara rendah, serta tiupan angin yang dapat mempercepat penyebaran api.
BMKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, membakar sampah sembarangan, maupun membuang puntung rokok di area bervegetasi kering.
Sementara itu, masyarakat yang berada di kawasan pegunungan Magetan, Ponorogo, dan Pacitan juga diminta mewaspadai munculnya kabut tipis menjelang subuh hingga pagi hari.
Fenomena tersebut dipicu penurunan suhu udara yang cukup signifikan selama musim kemarau dan dapat mengurangi jarak pandang pengendara.
Kontributor : Toto Jr
Editor : Tim Berita Jurnal


