Tanam Perdana PBRT di Tulungagung, Pemkab Targetkan Produktivitas Tebu Meningkat
| Pemerintah Kabupaten Tulungagung memulai tanam perdana Program Bongkar Ratoon Tebu (PBRT) di lahan tebu Desa Pinggirsari, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. |
Program yang digelar serentak di sejumlah daerah di Jawa Timur tersebut menjadi upaya peremajaan tanaman tebu lama dengan varietas baru yang dinilai lebih produktif guna meningkatkan hasil panen petani.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, mengatakan produktivitas tebu di sejumlah wilayah mulai mengalami penurunan akibat usia tanaman yang sudah terlalu lama sehingga perlu dilakukan peremajaan.
“Melalui pergantian varietas unggul, pemerintah berharap hasil panen tebu petani bisa meningkat secara signifikan,” kata Baharudin.
Ia menjelaskan, Pemkab Tulungagung telah mengusulkan program bongkar ratoon seluas 1.055 hektare. Saat ini sebagian lahan mulai ditanami secara bertahap, termasuk tanam perdana di Desa Pinggirsari dengan luas sekitar 1,175 hektare.
Menurutnya, Pemkab Tulungagung menargetkan produktivitas tebu ke depan mampu mencapai 150 ton per hektare guna mendukung peningkatan produksi gula sekaligus memperkuat kesejahteraan petani tebu di daerah.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah daerah akan memperkuat pendampingan lapangan, penggunaan varietas unggul, serta memperkuat sinergi dengan pabrik gula melalui penerapan pola tanam modern sesuai standar industri.
Gerakan tanam perdana ini dilaksanakan serentak di Jawa Timur dengan pusat kegiatan berada di Kabupaten Kediri dan dihadiri langsung Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
Dalam arahannya, Khofifah menegaskan pemerintah tengah mempercepat target swasembada gula konsumsi nasional dari semula tahun 2028 menjadi 2026 sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan nasional.
Menurut Khofifah, keberhasilan program bongkar ratoon tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi di tingkat petani, tetapi juga harus didukung sistem pasar yang sehat dan harga gula yang kompetitif.
Ia juga menilai modernisasi pabrik gula penting dilakukan agar rendemen tebu meningkat sehingga hasil panen petani dapat lebih maksimal.
“Kalau gula rafinasi masuk ke pasar konsumsi, tentu gula petani tidak kompetitif. Maka ekosistemnya harus dijaga, mulai dari tanam, penggilingan, hingga pemasaran,” pungkasnya.
Editor: Tim Berita Jurnal


