Tradisi Syawal, Kirab Ketupat Coklat Terus Dilestarikan dan Dikembangkan di Blitar ini
| Sekitar 5 ribu porsi ketupat coklat dibagikan kepada masyarakat yang hadir, menciptakan suasana penuh kebersamaan dan kehangatan. |
Kegiatan yang menjadi tradisi setiap Lebaran ketujuh di bulan Syawal ini berlangsung meriah dan menyedot antusiasme pengunjung. Sekitar 5 ribu porsi ketupat coklat dibagikan kepada masyarakat yang hadir, menciptakan suasana penuh kebersamaan dan kehangatan.
Bupati menilai kirab ketupat coklat merupakan tradisi budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan. Selain memiliki nilai religius, kegiatan ini juga dinilai mampu memperkuat identitas budaya daerah sekaligus menjadi daya tarik wisata.
“Kegiatan seperti ini sangat bagus sekali. Ke depan, saya berharap pelaksanaannya bisa melibatkan lebih banyak masyarakat, khususnya warga Desa Plosorejo, agar semakin meriah dan mampu menarik lebih banyak pengunjung,” ujar Bupati.
Ia juga menekankan pentingnya pengembangan kegiatan tersebut agar tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga dapat memberikan dampak positif terhadap sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat setempat.
Sementara itu, Divisi Quality Assurance atau Penjaminan Mutu Kampung Coklat, Reditya Wempi Ansori, menjelaskan bahwa kirab ketupat coklat merupakan wujud perpaduan nilai spiritual dan budaya leluhur.
“Tahun ini kirab dikolaborasikan dengan pengajian Sabtu pagi, sehingga nuansa religius semakin terasa,” jelasnya.
Menurutnya, ketupat memiliki makna simbolis sebagai bentuk kebersihan hati, saling memaafkan, serta mempererat tali silaturahmi antarwarga. Keunikan kirab ini terletak pada ketupat berwarna coklat yang menjadi ciri khas Kampung Coklat.
Dengan kolaborasi antara nilai budaya dan religi, kirab ketupat coklat diharapkan dapat terus berkembang sebagai tradisi yang tidak hanya lestari, tetapi juga mampu memperkuat daya tarik wisata di Kabupaten Blitar.
Kontributor : Erina Airin
Editor : Tim Berita Jurnal



