Margomulyo Resmi Jadi Desa Inklusi Pertama di Bojonegoro
![]() |
| Desa Margomulyo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, resmi ditetapkan sebagai Desa Inklusi pertama di wilayah Bojonegoro, Jawa Timur. |
Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Bojonegoro, Masirin, menyebut penetapan tersebut sebagai langkah bersejarah. Ia menegaskan, sesuai amanat UU Nomor 8 Tahun 2016, desa wajib menerapkan prinsip nondiskriminasi dan memberikan perlindungan kepada kelompok rentan.
"Tantangan setelah launching adalah keberlanjutan, bagaimana desa ini benar-benar memberi rasa aman dan nyaman bagi kelompok rentan," ujarnya.
Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Pemkab Bojonegoro, Machmuddin, menekankan bahwa penyandang disabilitas harus dipandang sebagai warga yang memiliki hak setara, bukan objek belas kasihan.
"Jangan pandang penyandang disabilitas sebagai objek yang dikasihani. Mereka adalah subjek, warga yang punya hak sama," tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat aktif melaporkan warga yang putus sekolah, menjadi korban kekerasan, maupun penyandang disabilitas yang belum mendapatkan layanan. Menurutnya, validitas data kelompok rentan menjadi bagian penting dalam mewujudkan desa inklusif.
"Desa Inklusi bukan soal kebanggaan atau kemenangan. Idealnya, memang setiap desa harus inklusi," tambahnya.
Wakil Ketua Pengurus Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Jawa Timur, Nelly Asnifati, menegaskan bahwa program tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial. Selama tiga tahun pendampingan, berbagai kegiatan telah dijalankan, di antaranya Balai Sakinah 'Aisyiyah (BSA), Bina Usaha Ekonomi Keluarga 'Aisyiyah (BUEKA), serta layanan kesehatan Si Jaka dan tes IVA.
"Tujuannya satu, agar semua warga tanpa terkecuali mendapat akses yang sama dalam mengakses layanan yang ada," ungkapnya.
Kepala Desa Margomulyo, Arif Rahman, mengatakan dampak program inklusi mulai dirasakan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas. Salah satunya kelompok penjahit disabilitas yang kini mendapat kepercayaan memproduksi seragam PAUD dan TK 'Aisyiyah se-Kabupaten Bojonegoro melalui kolaborasi dengan Pengurus Daerah 'Aisyiyah (PDA) Bojonegoro.
Manfaat program juga dirasakan Yusuf dan Eni Masfiroh, anggota BSA dan BUEKA penyandang disabilitas. Dalam sesi testimoni, keduanya mengungkapkan usaha mereka berkembang dan jangkauan pasar semakin luas setelah mendapatkan pendampingan.
Kegiatan ditutup dengan doa oleh Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Bojonegoro, H. Suwito. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyaluran bantuan sosial dari Dinas Sosial dan PDA Bojonegoro kepada warga dengan penyakit kronis, lansia, anak yatim piatu, serta penyandang disabilitas.
Kontributor : Yoni
Editor : Tim Berita Jurnal



