Hadapi Kekeringan, Madiun Genjot Tanam Serempak dan Pertanian Modern
| Gerakan Tanam Kebangkitan Nasional di Desa Plumpungrejo, Kecamatan Wonoasri, digelar Pemkab Madiun bersama Kementerian Pertanian dan Pemprov Jawa Timur sebagai bagian dari percepatan Luas Tambah Tanam (LTT). |
MADIUN, BERITA JURNAL — Ancaman kekeringan dan perubahan iklim mendorong Pemerintah Kabupaten Madiun mempercepat tanam padi secara serempak. Langkah ini ditempuh untuk menjaga produksi sekaligus memperkuat posisi Madiun sebagai salah satu lumbung pangan Jawa Timur.
Gerakan tersebut ditandai melalui Gerakan Tanam Kebangkitan Nasional di Desa Plumpungrejo, Kecamatan Wonoasri, Rabu (30/9/2026). Kegiatan digelar Pemkab Madiun bersama Kementerian Pertanian dan Pemprov Jawa Timur sebagai bagian dari percepatan Luas Tambah Tanam (LTT).
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kabupaten Madiun, Didik Hariyanto, mengatakan sektor pertanian harus dijaga di tengah tekanan cuaca ekstrem dan potensi keterbatasan air.
“Dengan luas lahan sawah mencapai lebih dari 32.418,3 hektare, Kabupaten Madiun berkomitmen mempertahankan posisinya sebagai lumbung pangan Jawa Timur,” kata Didik.
Ia menyebut produksi beras Madiun pada 2024 dan 2025 rata-rata mencapai 480.264 ton Gabah Kering Giling (GKG) per tahun, sekaligus menempatkan Madiun sebagai produsen beras terbesar keenam di Jawa Timur.
Didik meminta petani segera mengolah lahan dan melakukan tanam serempak. PPL juga diminta aktif memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi, distribusi air, serta mengantisipasi serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
Sementara itu, Penanggung Jawab Swasembada Pangan Berkelanjutan Jawa Timur, Ir. Yuristiyanto, menyampaikan empat strategi menghadapi ancaman El Nino dan kelangkaan air, yakni penggunaan benih tahan kekeringan dan berumur pendek, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), optimalisasi irigasi, serta tanam serempak.
Untuk jangka panjang, Pemkab Madiun juga mendorong penerapan Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PMAS).
Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun, Ndaru Kandaryanto, mengatakan PMAS telah didemplot di 15 kecamatan dan diharapkan semakin banyak diadopsi petani.
“Metode PMAS ini sudah didemplot di 15 kecamatan dan diharapkan dapat terus diadopsi oleh petani secara meluas,” ungkap Ndaru.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Madiun menjaga produktivitas pertanian di tengah perubahan iklim sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Kontributor : Ninik S
Editor : Tim Berita Jurnal


