Hari Jadi ke- 702 Kabupaten Blitar Pendekar Blitar, Tulungagung, Kediri, dan Trenggalek Hidupkan Tradisi Tiban
| Pagelaran Adu Laga Tiban yang menjadi rangkaian Hari Jadi ke-702 Blitar. Selain menjadi ajang adu ketangkasan, kegiatan ini juga menjadi wujud pelestarian warisan budaya leluhur. |
Bupati Blitar Rijanto menegaskan, tiban bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan warisan budaya yang sarat nilai keberanian, sportivitas, kedisiplinan, persaudaraan, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap tradisi.
" Karena itu budaya tersebut harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda", ungkapnya.
Menurutnya, tradisi tiban yang lahir dari kehidupan masyarakat agraris perlu terus dikembangkan tanpa meninggalkan nilai-nilai luhurnya, sehingga mampu menjadi media pendidikan karakter sekaligus daya tarik wisata budaya.
Sementara itu, Pembina Paguyuban Tiban Blitar–Tulungagung, Guntur Wahono, mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Blitar yang kembali memfasilitasi pagelaran adu laga tiban di lingkungan Kantor Pemkab. Menurutnya, penyelenggaraan untuk kedua kalinya ini menjadi bukti komitmen bersama dalam melestarikan seni tradisi tiban yang berkembang di Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, dan daerah sekitarnya.
Guntur menjelaskan, adu laga berlangsung selama dua hari. Pada 8 Agustus mempertemukan pendekar tiban dari Blitar dan Tulungagung, sedangkan 9 Agustus menghadirkan pendekar dari Trenggalek dan Kediri. Ia menegaskan, meski bertanding di arena, semangat yang dijunjung tetap persaudaraan.
"Di atas arena kita mengadu kemampuan, tetapi di luar arena kita tetap saudara," ujarnya.
Melalui pagelaran ini, Pemerintah Kabupaten Blitar bersama paguyuban berharap seni tradisi tiban terus lestari sebagai identitas budaya sekaligus perekat persaudaraan antar daerah.
Kontributor : Erina Airin
Editor : Tim Berita Jurnal


