Metri Bumi Trenggalek, Tradisi Leluhur Merawat Alam Semesta
| Bupati Trenggalek Muhammad Nur Arifin : Metri Bumi berasal dari kata metri, memetri, atau mitoni bumi dalam bahasa Jawa yang bermakna memelihara bumi demi keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk, termasuk manusia. |
TRENGGALEK, BERITA JURNAL — Tradisi Metri Bumi bukan sekadar ritual budaya. Di tengah ancaman kerusakan lingkungan dan menyusutnya sumber air, tradisi turun-temurun masyarakat Trenggalek ini menjadi pengingat bahwa keberlangsungan hidup manusia sangat bergantung pada kelestarian alam.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek menggelar Metri Bumi di Taman Kili-Kili dan sumber air Kedungdowo, Dusun Bendogolor, Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul. Tradisi tahunan tersebut menjadi bagian dari upaya merawat warisan budaya sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.
Bupati Trenggalek Muhammad Nur Arifin mengatakan, Metri Bumi berasal dari kata metri, memetri, atau mitoni bumi dalam bahasa Jawa yang bermakna memelihara bumi demi keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk, termasuk manusia.
"Metri bumi artinya memelihara bumi untuk keutuhan dan keberlangsungan hidup makhluk hidup di dalamnya, termasuk manusia," kata Nur Arifin.
Menurut dia, kehidupan masyarakat Trenggalek sangat bergantung pada sumber daya alam. Sektor pertanian, perikanan, industri pengolahan, dan pariwisata menjadi penopang utama perekonomian daerah.
Karena itu, Metri Bumi tidak hanya dimaknai sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa setelah panen, tetapi juga sebagai pesan penting agar masyarakat menjaga tanah, sumber air, dan lingkungan.
Rangkaian tradisi biasanya diawali kirab hasil bumi, doa bersama, hingga kenduri atau makan bersama. Sejumlah daerah juga mengenal tradisi nyekar atau tabur bunga di petilasan maupun makam leluhur desa.
Dalam pelaksanaannya, berbagai hasil bumi dan perlengkapan sesaji seperti ayam ingkung, kepala kambing atau kerbau, serta tumpeng menjadi bagian dari tradisi yang dilakukan masyarakat setempat.
Lebih dari ritual, Metri Bumi juga mengandung nilai sosial. Kegiatan tersebut memperkuat gotong royong, persaudaraan, toleransi, solidaritas, dan kerukunan antarwarga.
"Nilai ekologinya adalah jika kita merawat bumi, maka bumi akan merawat kita," ujar Nur Arifin.
Kirab hasil bumi, lanjutnya, sekaligus menjadi pengingat bahwa kesuburan tanah dan ketersediaan air merupakan modal utama kehidupan masyarakat. Karena itu, pelestarian lingkungan tidak boleh berhenti pada seremoni, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
"Di era modern ini, Metri Bumi masih terus dijaga oleh masyarakat Trenggalek. Tradisi ini menjadi warisan yang harus dikenalkan dari generasi ke generasi," pungkasnya.
Kontributor : Rina
Editor : Tim Berita Jurnal


