width=

Filosofi Patung Bung Karno Membaca Buku di Istana Gebang

Peresmian patung Sang Proklamator sedang duduk di kursi sambil membaca buku memiliki filosofi semangat perjuangan mewujudkan kemerdekaan.
BLITAR, BERITA JURNAL - Patung Bung Karno yang baru diresmikan di kawasan Istana Gebang, Kota Blitar, menampilkan sosok Sang Proklamator sedang duduk di kursi sambil membaca buku.

Berbeda dengan banyak patung Bung Karno yang identik dengan pose berpidato, patung ini menggambarkan sisi lain dari Putra Sang Fajar tersebut sebagai seorang pembelajar dan pecinta ilmu pengetahuan.

Di balik visualisasi tersebut, terdapat filosofi yang sengaja ditanamkan oleh maestro Dumadi, pematung asal Yogyakarta yang dipercaya membuat patung Presiden pertama Republik Indobesia.

Dumadi mengatakan bahwa, buku dipilih sebagai simbol utama karena Bung Karno merupakan sosok yang lahir dan tumbuh dari tradisi intelektual dengan gagasan-gagasan besar Bung Karno.

"Patung ini ingin menunjukkan bahwa pemimpin besar lahir dari tradisi membaca dan belajar. Bung Karno adalah contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan melahirkan gagasan yang mampu mengubah bangsa," kata Dumadi, Senin (15/6/2026).

Menurutnya, Bung Karno menjadi pemimpin bangsa tidak muncul secara tiba-tiba. Pemikiran tentang kemerdekaan, kebangsaan, hingga perjuangan melawan penjajahan lahir dari proses panjang membaca, belajar, dan memperluas wawasan.

Ia menjelaskan, patung setinggi empat meter tersebut dibuat menggunakan material logam dengan proses pengerjaan selama kurang lebih enam bulan tersebut berupaya menghadirkan sosok Bung Karno yang tidak hanya dikenang sebagai orator ulung.

"Tetapi juga sebagai seorang pemikir yang menjadikan buku sebagai sumber inspirasi perjuangan," jelasnya.

Pilihan visual Bung Karno membaca buku memiliki relevansi kuat dengan kondisi saat ini di tengah derasnya arus informasi digitalisasi dan tantangan rendahnya minat baca pada generasi muda.

"Kehadiran patung tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa tidak bisa dilepaskan dari budaya literasi," ungkapnya lebih lanjut.

Keberadaan patung di lingkungan rumah masa kecil Bung Karno tersebut bukan sekadar menambah koleksi monumen sejarah di Kota Blitar dan diharapkan mampu menginspirasi masyarakat untuk kembali menumbuhkan kebiasaan membaca dan belajar.

Bagi Dunadi, patung Bung Karno Membaca Buku merupakan simbol bahwa perjuangan tidak hanya dilakukan melalui pidato dan gerakan politik, tetapi juga melalui pemikiran yang lahir dari ilmu pengetahuan. Pesan itulah yang ingin ia wariskan melalui karya yang kini berdiri di kawasan Istana Gebang.

Kontributor : Erina Airin
Editor           : Tim Berita Jurnal
Previous Post
  width=