Hama Patek dan Tikus Serang Tanaman Cabai di Blitar
| Selain patek, serangan hama tikus juga dinilai semakin merajalela menyerang tanaman cabai dan berpotensi gagal panen. |
Kondisi cuaca yang hampir setiap hari diguyur hujan memicu kelembaban tanah tinggi dan mempercepat perkembangan organisme Patek atau antraknosa pengganggu tanaman cabai.
Pengurus Gapoktan Tani Lestari Desa Sumber Kembar, Selamet, mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Ia menyebut serangan patek atau antraknosa membuat kualitas buah cabai menurun drastis.
“Kalau patek itu sekarang ibaratnya satu kilo yang bagus, satu kilo jelek. Banyak buah yang bercak dan busuk, jadi hasil panen tidak maksimal,” ujar Selamet, Senin (2/3/2026).
Selamet mengatakan, selain patek, serangan hama tikus juga dinilai semakin merajalela. Meski sebelumnya sudah dilakukan pengendalian melalui penyemprotan dan upaya pengobatan, populasi tikus disebut masih sulit ditekan.
'Hama tersebut menyerang tanaman dari bagian bawah, bahkan memakan batang di sekitar gundukan tanah," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura DKPP Kabupaten Blitar, Siswoyo Adi Prasetyo, menjelaskan bahwa tingginya curah hujan dan kondisi cuaca yang cukup ekstrem menjadi salah satu faktor utama meningkatnya tumbuhnya hama dan penyakit.
“Kondisi ini memicu munculnya penyakit seperti layu fusarium, gemini yang ditandai daun menguning, serta antraknosa yang menyebabkan bercak pada buah cabai, dan juga serangan tikus di beberapa lokasi,” jelas Siswoyo Adi.
Siswoyo mengungkapkan, berdasarkan laporan yang diterima, terfapat sekitar 20 persen tanaman cabai dilaporkan terdampak serangan hama dan penyakit tersebut.
Selain faktor cuaca, pemilihan benih juga menjadi salah satu penyebab rentannya tanaman terhadap penyakit. Mayoritas petani masih menggunakan benih lokal hasil panen sebelumnya yang ditangkarkan secara mandiri.
“Pemilihan benih sangat menentukan pertumbuhan dan hasil cabai. Benih yang diambil dari buah yang benar-benar sehat dan berkualitas baik akan menghasilkan panen yang baik," ungkapnya.
Namun masih menjadi kebiasaan sebagian petani yang justru menggunakan benih asal yang tidak diketahui mutu dan kesehatan benih, atau pernah terserang penyakit untuk dijadikan benih yang virusnya bisa terbawa dan menurun ke tanaman berikutnya.
DKPP Kabupaten Blitar bersama petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan para penyuluh pertanian terus melakukan pendampingan dan edukasi kepada kelompok tani.
"Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat pengendalian hama terpadu serta meningkatkan pemahaman petani terkait seleksi benih yang baik," terangnya.
Dengan langkah tersebut, diharapkan produksi cabai di Kabupaten Blitar tetap terjaga meski menghadapi tantangan cuaca dan serangan hama yang cukup tinggi.
Kontributor : Erina Airin
Editor : Tim Beritajurnal



