Satu Abad NU : 40.000 Jamaah Istighosah Kubro Padati Stadion Soeprijadi Kota Blitar
| Sekitar 40.000 jamaah dari berbagai elemen jam’iyah Nahdliyyin Kota Blitar dan Kabupaten Blitar tumpah ruah memenuhi stadion sejak dini hari. |
Rangkaian kegiatan dimulai sekitar pukul 05.00 WIB dan diisi dengan khataman Al-Qur’an, istighosah kubro, serta doa 9 kyai. Istighosah ini menjadi ikhtiar spiritual bersama warga NU untuk memohon keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan bagi masyarakat Blitar Raya serta bangsa Indonesia.
Ketua Panitia Penyelenggara, H. Hartono, mengatakan Istighosah Kubro NU Blitar Raya bukan hanya agenda keagamaan, tetapi juga momentum kebersamaan untuk memperkuat persatuan jam’iyah dan menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat.
“Istighosah ini sebagai ikhtiar tolak balak. Harapannya Blitar Raya tetap adem ayem,” ujar Hartono.
Hartono menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang konsolidasi dan penguatan peran NU di ruang publik. Menurutnya, para masyayikh sepakat bahwa kekuatan jam’iyah harus terus dirawat melalui kebersamaan, persatuan, dan doa bersama.
“Istighosah Kubro ini menjadi ikhtiar bersama warga NU Blitar Raya untuk memperkuat persatuan dan kekuatan jam’iyah. Ini bentuk kekuatan jam’iyah yang harus terus dirawat,” tambahnya.
Sementara itu, Walikota Blitar, Syauqul Muhibin, dalam sambutannya menegaskan kontribusi besar NU terhadap perjalanan bangsa dan negara. Ia menyebut, 100 tahun lalu tepatnya 31 Januari 1926, NU lahir melalui peran para ulama, termasuk KH Hasyim Asy’ari, yang tidak hanya membesarkan jam’iyah, tetapi juga memberikan sumbangsih nyata bagi Indonesia.
“Seratus tahun lalu, 31 Januari 1926, KH Hasyim Asy’ari turut memberikan kontribusi terhadap NU dan negara,” kata Syauqul Muhibin.
Ia menjelaskan, NU memiliki peran besar dalam berbagai fase sejarah bangsa. Salah satunya pada tahun 1945, ketika NU berperan menginisiasi Resolusi Jihad yang kemudian memantik semangat perjuangan hingga pecah peristiwa besar 10 November.
Tak hanya itu, Syauqul Muhibin juga menyinggung peran NU dalam menjaga keutuhan bangsa pada tahun 1965, termasuk dalam mempertahankan Pancasila dan NKRI. Menurutnya, hingga saat ini peran NU tetap menjadi salah satu pilar penting bagi keberlanjutan pembangunan bangsa.
“Peran NU sangat besar. Tahun 1945 berperan besar menginisiasi Resolusi Jihad sehingga pecah perang 10 November. Tahun 1965 mempertahankan Pancasila dan NKRI. Hingga saat ini bangsa akan susah berkembang kalau tidak ada NU,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Walikota Blitar juga mengajak seluruh jamaah menjadikan dawuh para kiai sebagai pedoman, khususnya dalam menjaga sikap rendah hati serta menjauhi sifat sombong.
“Maka dari itu dawuh kiai yang kita pedomani, rendahlah diri, tidak sombong,” lanjutnya.
Syauqul Muhibin berharap, Istighosah Kubro yang digelar dalam rangka 1 Abad NU ini menjadi jalan doa bersama yang dapat membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi bangsa.
Ia optimistis, doa yang dipanjatkan puluhan ribu jamaah akan menjadi kekuatan spiritual yang mampu menguatkan Indonesia dalam menghadapi berbagai persoalan.
Kontributor : Erina Airin
Editor : Tim Beritajurnal



