width=

Kegiatan Tutup Tahun, 44 Peserta Ikuti BINLAT di Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok

Berbeda dengan pendidikan formal pada umumnya, BINLAT ini menggunakan pendekatan pendidikan berbasis rasa, bukan hanya pengetahuan kognitif. 
BERITA JURNAL, KEDIRI - Sebagai penutup kegiatan akhir tahun 2025, 44 pelajar setingkat SMP, SMA, dan mahasiswa mengikuti Bimbingan dan Pelatihan (BINLAT) Karakter Bangsa yang dijiwai Jati Diri Bangsa Indonesia, yang telah dilaksanakan di Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, pada Selasa 30 Desember 2025.

Ketua Pusat Pendidikan Rasa, Wawasan, dan Karsa Kebangsaan Indonesia Raya Pesantren Jati Diri Bangsa Indonesia, Suhartono, menyampaikan agenda ini menjadi ruang refleksi dan pembekalan generasi muda menyongsong Indonesia Emas 2045.

Menurut Suhartono, BINLAT tersebut merupakan hasil kerja sama antara Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) Indonesia, Perkumpulan Instruktur Pegiat Jati Diri Bangsa Indonesia (PIPJATBANG), dan Pesantren Jati Diri Bangsa Indonesia Merajut Perdamaian Nusantara.

"Pelatihan ini berlangsung intensif sejak pukul 08.00 hingga 20.00 WIB, di bawah bimbingan para instruktur yang kompeten di bidang pendidikan karakter dan jati diri bangsa. Harapannya, momentum akhir tahun dimanfaatkan sebagai waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri, penanaman nilai, dan penguatan arah hidup generasi muda," katanya, Rabu (31/12/2025).

Suhartono menegaskan, bahwa seluruh fasilitator BINLAT telah memiliki sertifikasi kompetensi nasional yakni dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Hal ini penting agar pendidikan karakter yang diberikan di akhir tahun ini benar-benar profesional, terukur, dan berdampak.

"Berbeda dengan pendidikan formal pada umumnya, BINLAT ini menggunakan pendekatan pendidikan berbasis rasa, bukan hanya pengetahuan kognitif. Pendekatan ini dinilai relevan sebagai refleksi akhir tahun, ketika peserta diajak kembali mengenali jati dirinya sebagai manusia dan warga bangsa," ujar Suhartono.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Instruktur Pegiat Jati Diri Bangsa Indonesia (PIPJATBANG) Kushartono, mengemukakan, bahwa pendidikan rasa menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter.

"Akhir tahun adalah waktu yang tepat untuk menyadarkan kembali rasa. Orang pintar sudah banyak, orang paham juga banyak, tetapi orang yang sadar dengan rasa justru langka, sehingga generasi muda calon pemimpin Indonesia Emas 2045 harus memiliki rasa yang kuat—rasa cinta tanah air, rasa tanggung jawab, dan rasa kemanusiaan," ucap Kushartono.

Ia menambahkan bahwa pendidikan jati diri bangsa dalam BINLAT ini dibangun di atas tiga pilar utama, yakni spiritual, intelektual, dan kultural, yang harus menyatu. Lebih lanjut disampaikan, para instruktur pegiat jati diri bangsa telah terorganisasi secara nasional dalam PIPJATBANG, yang tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia, dengan kantor pusat di Rumah Kebangsaan Jatiasih Bekasi Jawa Barat.

"Bahkan, menjelang akhir tahun ini, para instruktur Pipjatbang Pusat  juga memberikan Training of Trainers (TOT) kepada para pendidik di Sekolah Pendidikan Polisi (SPN) dari 10 Polda di berbagai wilayah Indonesia," terangnya.

Tika, salah satu peserta BINLAT, mahasiswa asal Jombang, mengaku kegiatan ini menjadi pengalaman reflektif yang mendalam di penghujung tahun. "Yang paling berkesan bagi saya adalah sesi story telling di Situs Ndalem Pojok, di tempat Bung Karno," ungkap Tika.

Lebih lanjut, dukungan juga datang dari unsur kepolisian. Kapolsek Wates, AKP Agus, menilai BINLAT ini sangat relevan sebagai upaya pencegahan kenakalan remaja, khususnya di usia SMP.

"Kalau anak-anak yang bermasalah bisa dilatih di sini dan kemudian berubah, manfaatnya akan jauh lebih besar. Kami di lapangan masih banyak menemukan pelanggaran seperti minuman keras dan tawuran. Harapan kami, ke depan pelatihan ini juga menyasar remaja bermasalah," pungkas AKP Agus.

Kontributor : Sukma Ayu
Editor : Tim Beritajurnal
Next Post Previous Post
  width=