Harga Plastik dan Botol Naik Signifikan, UMKM di Blitar Terdampak dan Mulai Menyesuaikan Harga Jual
| Pelaku UMKM memilih menaikkan harga jual dibandingkan mengurangi takaran demi menjaga kualitas. |
Penjual jamu tradisional, Meriawati, mengaku harga botol naik signifikan. Botol kecil 510 mililiter dari Rp80 ribu menjadi Rp100 ribu per bal isi 91 botol, sedangkan botol 1,5 liter naik dari Rp100 ribu menjadi Rp116 ribu per bal isi 72 botol.
“Sekarang harga naik, tapi barangnya sering kosong. Saya memilih menaikkan harga jual dibandingkan mengurangi takaran demi menjaga kualitas”, ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Ia, mengaku kenaikan juga terjadi pada plastik. Kresek dari Rp66 ribu menjadi Rp106 ribu per paket isi 10 lembar, plastik setengah kilogram dari Rp10 ribu menjadi Rp13.800.
Dampak serupa dirasakan pelaku usaha catering. Susi menyebut kantong plastik ukuran satu kilogram naik dari Rp5.000 menjadi Rp7.000, dan wadah thinwall 1.500 mililiter dari Rp2.000 menjadi Rp2.500 per pcs.
“Kenaikannya terasa karena kebutuhan kemasan cukup banyak", kata Susi.
Sementara itu, Rina, karyawan toko plastik, mengatakan stok mulai menipis, terutama plastik gelas, mika, dan styrofoam. “Barangnya mulai susah, terutama plastik gelas, mika, dan styrofoam", ungkapnya.
Kenaikan harga dan keterbatasan stok ini semakin menambah tekanan bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan kemasan dalam aktivitas produksi sehari-hari.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menyebut Indonesia masih bergantung pada impor nafta sebagai bahan baku utama industri plastik, sehingga gangguan pasokan berdampak pada harga di dalam negeri.
Untuk diketahui, kenaikan harga plastik dipicu terganggunya pasokan bahan baku impor dari Timur Tengah.
Kontributor : Erina Airin
Editor : Tim Berita Jurnal



