Tafsir Rezeki Muncul Usai Gempa Pacitan, Budayawan Pesan Jangan Lengah
BLITAR, BERITA JURNAL – Gempa bumi magnitudo 6,4 yang mengguncang wilayah Pacitan pada Jumat (6/2/2026) dini hari memunculkan beragam respons di tengah masyarakat.
Selain penjelasan ilmiah dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peristiwa ini juga diiringi tafsir budaya yang berkembang di kalangan masyarakat.
Seperti diketahui, gempa terjadi pukul 01.06 WIB dengan pusat di laut sekitar 89 kilometer tenggara Pacitan pada kedalaman 58 kilometer. Getaran dirasakan di sejumlah daerah, mulai Pacitan, Bantul, Sleman hingga Blitar dan Jepara.
Budayawan Ki Suwarso menilai gempa yang terjadi dini hari dan bertepatan jumat wage itu, dimaknai sebagai simbol datangnya kecukupan atau rezeki. Namun ia menegaskan, makna tersebut harus disertai sikap waspada agar masyarakat tidak terlena oleh keadaan.
“Dimaknai sebagai tanda kecukupan dan kebahagiaan. Tapi itu sekaligus pengingat agar kita tetap menjaga kewaspadaan dan kehati-hatian. Tidak boleh terlena,” ujar Ki Suwarno.
Menurutnya, dalam falsafah Jawa, setiap kebahagiaan selalu berdampingan dengan pesan agar manusia tetap eling lan waspada. Setelah masa senang, biasanya akan datang ujian yang menuntut kesiapan mental dan kebijaksanaan dalam bersikap.
Ia menekankan tafsir budaya tersebut bukan untuk menimbulkan ketakutan, melainkan sebagai ajakan introspeksi agar masyarakat tetap seimbang dalam menyikapi situasi.
Kontributor : Erina Airin
Editor : Tim Beritajurnal



