Kepala SRMA 23 Pacitan Beberkan Tantangan Pendidikan di Pelosok, Daya Juang Pelajar Dinilai Luar Biasa
| Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 23 Pacitan, Nanang Adang Kusdinar, menilai pelajar di daerah tersebut memiliki potensi besar dan semangat juang tinggi untuk mengubah masa depan. |
Nanang mengatakan, tantangan paling mendasar yang dihadapi pelajar Pacitan adalah persoalan akses dan kondisi geografis wilayah. Banyak siswa yang tinggal di kawasan pelosok pegunungan harus menempuh perjalanan jauh dengan biaya transportasi tinggi demi mendapatkan pendidikan yang layak.
“Jadi tantangan di Pacitan itu adalah satu akses, yang kedua adalah sosial ekonomi masyarakat, yang ketiga adalah mindset masyarakat untuk menjalani pendidikan yang lebih baik,” kata Nanang.
Menurutnya, tantangan kedua berasal dari kondisi sosial ekonomi masyarakat yang masih membatasi kesempatan anak-anak untuk melanjutkan pendidikan. Sementara tantangan ketiga adalah pola pikir sebagian masyarakat yang masih menganggap pendidikan bukan kebutuhan utama.
Mantan Kepala SMAN 1 Nawangan itu menyebut masih ada sebagian orang tua yang pasrah terhadap kondisi ekonomi sehingga pendidikan anak kurang menjadi prioritas. Akibatnya, muncul anggapan bahwa kemiskinan seolah menjadi warisan turun-temurun karena rendahnya akses pendidikan.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Nanang melihat para pelajar di Pacitan memiliki mental kuat dan daya juang luar biasa. Pengalamannya mengajar di wilayah Tulakan hingga Nawangan menjadi bukti bahwa anak-anak di Pacitan memiliki semangat tinggi untuk maju.
“Kalau potensi ini luar biasa. Daya juangnya luar biasa, jadi keinginan untuk majunya ini luar biasa, tahan banting,” ungkapnya.
Ia juga kerap menjadikan sosok Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, yang berasal dari Pacitan sebagai motivasi bagi para siswa agar percaya diri dalam meraih cita-cita.
Untuk menjawab berbagai persoalan tersebut, Nanang menilai kehadiran SRMA 23 Pacitan menjadi solusi nyata dari pemerintah pusat. Sekolah berasrama itu diperuntukkan bagi siswa dari keluarga kategori sangat miskin (Desil 1) dan miskin (Desil 2) tanpa melihat kemampuan akademik awal.
Seluruh kebutuhan siswa ditanggung pemerintah, mulai dari biaya pendidikan, asrama, makan bergizi, seragam, laptop, hingga layanan kesehatan spesialis secara gratis.
Kontributor : Danur S
Editor : Tim Berita Jurnal


